HIDUP, HARUS PUNYA RASHA TIDAK PUNYA RASHA PUNYA

Jurnal

PENGARUH KEJELASAN SASARAN ANGGARANTERHADAP SENJANGAN ANGGARAN INSTANSI PEMERINTAH DAERAHDENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI

Ehrmann Suhartono, Mochammad Solichin ; Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta

ABSTRACT

This study tries to understand the influences of (1) local government budget goal clarity on local government institution’s budgetary slack (2) organizational commitment on the relation of budget goal clarity as well as local government institution’s budgetary slack. The subjects of this study are middle and lower managers in local government institutions including section/department/sub-section head, under the municipality and regencies in the Special Provinces of Yogyakarta. The results show that budget goal clarity influence local government institution’s budgetary slack. Then organizational commitment act as moderating variable in the relation of budget goal clarity with local government institution’s budgetary slack.

Keywords: Budget Goal Clarity, Organizational Commitment, Budgetary Slack, Local Government.

LYPAPER EFFECT PADA DANA ALOKASI UMUM (DAU) DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) TERHADAP BELANJA DAERAH PADA KABUPATEN/KOTA DI PULAU SUMATERA

Mutiara Maimunah ; STIE Musi Palembang

ABSTRACT

The main objective of this research is to provide empirical proof of occurrence of flypaper effect in DAU and PAD on local expenditure in regencies/municipality in Sumatera. The other objective is to examine existence of different flypaper effect between low-PAD region and high-PAD region. Then, it examined whether or not flypaper still occurred in local expenditures in education, health and infrastructure field. Data was from local budget and revenue report. Result of analysis indicates that DAU and PAD separately influenced local expenditure. However, when tested at once, PAD indicated no significant result. It indicates that there have occurred flypaper effects. Flypaper effect is defined as local response (expenditure) that is greater than transfer. Result of test to examine whether or not flypaper effects that tend to increase amount of local expenditure is significant. Flypaper effect is indifferent in regions whose PAD is low compared with region whose PAD is high. When testing local expenditure related to public, only expenditure in education field did not undergo flypaper effect, while in health and infrastructure expenditure the condition still occurred. The results still require confirmation through future researches.

Keywords: regional budget report, DAU, PAD, flypaper effect, PAD category, public sector local expenditure, regency/municipality, Sumatera

HUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH, BELANJA PEMBANGUNAN DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH(Studi pada Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali)

Priyo Hari Adi ; Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Abstracts

Fiscal decentralization brings more advantages for regions to manage their own fiscal capacities. Regions governments have opportunity to increase economic efficiency because the governments have informational advantages concerning resource allocation. The governments are in the better position to provide the kind of public goods and services that closely meets the local needs.This study tends to examine the impact of the changes of expenditure structure both to the economics growth and also to the regional own revenue. It is also intended to examine the direct and indirect effect the changes of capital expenditure to the regional own revenueIn relation with the changes of expenditure structure, the research finds that it significantly influences both regional economics growth and regional own revenue It also finds that the government’s decision to alocate the greater capital expenditure to the supported economic growth infrastructures wiil brings more regional own revenue.

Key Words : Fiscal decentralization, economic growth,, capital expenditure, regional own revenue

PENGARUH KARAKTERISTIK TUJUAN ANGGARAN TERHADAP PERILAKU, SIKAP, DAN KINERJA APARAT PEMERINTAH DAERAHDI KABUPATEN KUPANG

Munawar Politeknik Negeri Kupang Gugus Irianto dan NurkholisFakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang

Abstract

Local Expense and Income Budget (APBD) comes into arrangement relied on performance an approach, particularly an pertained to a budget system focusing on output achievement from predetermined cost or input allocations. Regarding to this performance approach, APBD must be targeted into objective achieved for one budget year. Research applies for two approaches, Quantitative and Qualitative approaches. Obtaining in-depth understanding enrichment behind the effect of budget objective characteristic on behavior, attitude, and performance of local officer in Kupang Regency, requires research to equip with qualitative study. Qualitative approach, therefore, involves combination method (triangulation) through phenomenology analysis tool. Research wants to examine whether budget objective characteristic represented may affect behavior, attitude, and performance of local officer at the Kupang Regency during their effort of preparing the budget, implementing the budget, and taking responsibility for the budget.This research found that the characteristic of budget target is simultaneously have an positively effect on to behavior, attitude, and performance of the Kupang Regency Governmental apparatus with value Fhitung>Ftabel. This matter indicate that behavior, attitude, and performance of the Kupang Regency Governmental apparatus in compilation, execution, and responsibility of budget have followed the specified order that is of the staff and people taking part in compilation, execution, and the budget responsibility. qualitative Analyzed supporting the result that found from quantitative analysis.

Keyword: budget objective characteristic, behavior, attitude, and performance.

PERILAKU OPORTUNISTIK LEGISLATIF DALAM PENGANGGARAN DAERAH

Abstrak

Penerapan otonomi daerah di Indonesia berdasarkan UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 telah membuka peluang diaplikasikannya teori keagenan dalam riset penganggaran publik. Legislatif adalah prinsipal bagi eksekutif sekaligus agent bagi voters (pemilih). Asimetri informasi antara eksekutif dan legislatif menjadi tidak terlalu berarti ketika legislatif menggunakan discretionary powernya dalam penganggaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) legislatif sebagai agen dari voters berperilaku oportunistik dalam penyusunan APBD, (2) besaran PAD berpengaruh terhadap perilaku oportunistik legislatif, dan (3) APBD digunakan sebagai sarana untuk melakukan political corruption.

Kata-kata kunci: otonomi daerah, eksekutif, legislatif, APBD, hubungan keagenan, agency problem, principal-agent drift, abdikasi, perilaku oportunistik, political corruption.

Pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif dan Implikasinya pada Kinerja Pemerintah Daerah ( Survey pada Kabupaten/Kota di Propinsi Maluku Utara)

SUWITO ; Fakultas Ekonomi Universitas Khairun

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji Pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah daerah dan Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Metode Penelitian yang digunakan adalah descriptive dan explanatory survey terhadap 8 kabupaten/kota di Propinsi Maluku Utara. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik survey menggunakan instrument kuesioner dan wawancara. Dilaksanakan sejak bulan Maret 2007 sampai Agustustus 2007. metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (Path Analsis).

Kesimpulan penelitian ini adalah : 1) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara Simultan berpengaruh terhadap Penganggaran Partisipatif. 2) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial berpengaruh sangat kuat terhadap Penganggaran Partisipatif. 3) Kompetensi Tim Angaran Pemerintah daerah secara parsial berpengaruh lemah terhadap penganggaran partisipatif. 3) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif secara simultan berpengaruh terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Di antara ketiga variable tersebut, variable penganggaran partisipatif yang sangat kuat pengarunya terhadap kinerja pemerintah daerah dengan menyumbangkan kontribusi pengaruh langsung sebesar  65 persen, kemudian diikuti dengan variable Kompetensi Panitia Anggaran DPRD sebesar 2,70 persen dan variable Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah sebesar 0,15 persen.

Kata Kunci : Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah Penganggaran Partisipatif Kinerja Pemerintah Daerah, Analisis Jalur.

ABSTRACT

The objective of this research is to investigate “ the impact of the competence of Budget Committee DPRD, the competence of Budget Team local government on the partisipative budgeting and its implication at local government performance.

The methods employed are descriptive and explanatory survey on 8 Local Government in north moluccas. Data collection is conducted using surveying techniques with questionnaire and interview. The research was conducted from March 2007 until August 2007. Analysis method used is Path Analysis.

Conclusion drawn are 1) The Competence of the Budget Committee DPRD and The Competence of The Budget Team Local Government simultaneously effect the Partisipative Budgeting. 2) The Competence of the Budget Committee DPRD partially very strong effect Partisipative Budgeting. 3) The Competence of The Budget Team Local Govern partially weak effect Partisipative Budgeting. 4) The Competence of the Budget Committee DPRD, The Competence of The Budget Team Local Government and Partisipative Budgeting simultaneously effect Local Government Performance. The third variable, Partisipative Budgeting variable so very strong effect  local government performance with direct effect contribution to 65 percent, and then followed with the Competence of the Budget Committee DPRD variable 2,70 percent and  The Competence of The Budget Team Local Government  0,15 percent.

Keywords : Of the Competence of Budget Committee DPRD, the Competence of Budget Team Local Governme, Partisipative Budgeting, Local Government Performance, Path Analysis.

I. PENDAHULUAN

Keberadaaan otonomi daerah seperti dinyatakan dalam UU No 32/2004 pasal 22 ayat (b) adalah “meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat”. Untuk mencapianya saat ini pemerintah daerah diperhadapkan pada tekanan untuk lebih mempetimbangkan efektifitas, mempertimbangkan biaya ekonomi dan biaya sosial serta mempertimbangkan dampak kegiatan yang dilakukan terhadap mayarakat. Berbagai tuntutan tersebut menyebabkan akuntansi dapat diterima dan diakui sebagai ilmu yang dibutuhkan dalam upaya pencapaian tujuan organisasi melalui pengelolaan urusan-urusan publik. Kenyataan inilah yang membuat akuntansi sektor publik menjadi disiplin ilmu yang dibutuhkan keberadaanya di lingkungan pemerintahan daerah saat ini.

Memahami akuntansi sebagai alat pengendali perlu dibedakan, akuntansi sebagai alat pengendalian keuangan (financial control) dengan akuntansi sebagai alat pengendalian organisasi (organization control). Akuntansi sebagai alat pengendalian keuangan terkait dengan informasi peraturan atau sistem aliran uang dalam organisasi, khususnya menjamin bahwa organisasi memiliki likuiditas dan solvabilitas yang baik. Sedangkan akuntansi sebagai alat pengendali organisasi, terkait dengan informasi yang lebih luas mengenai organisasi yaitu menjamin bahwa organisasi tidak menyimpang dari tujuan dan startegi yang telah ditetapkan.

Untuk tujuan tersebut, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. (UU No.32/2004,  pasal 23 ayat 1 dan 2). Sebagaimana Mardiasmo (2002:99), mengatakan bahwa wujud dari penyelenggaraan otonomi daerah adalah menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahtraan masyarakat, memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi dalam proses pembangunan. Dengan demikian anggaran menjadi relevan dan penting di lingkungan pemerintah daerah. Hal ini sehubungan dengan fungsi pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Lebih lanjut, anggaran merupakan dokumen/kontrak politik antara pemerintah dan DPRD untuk masa yang akan datang, (Mardiasmo, 2002:182-184). Selain itu, anggaran merupakan elemen penting dalam sistem pengendalian manajemen karena anggaran tidak saja sebagai alat perencanaan keuangan, tetapi juga sebagai alat pengendalian, koordinasi, komunikasi, evaluasi kinerja dan motivasi, (Kenis, 1979:707).

Mengingat anggaran dalam sistem perencanaan dan pengendalian sektor publik mempunyai arti dan peran penting terkait fungsinya sebagai alat alokasi sumber daya publik, alat distribusi dan stabilisasi, maka sangat dibutuhkan peran baik anggota DPRD (Legislatif) maupun aparat pemerintah daerah (Eksekutif) yang memiliki kompetensi dalam proses penyusunan fiskal, proses anggaran, dan sampai pada penyelenggaraan akuntansi disektor publik. Karena bagaimanapun, unsur manusia dalam proses ini memegang kunci keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Dalam konteks inilah pimpinan legislatif maupun eksekutif dituntut menjadi pengarah dalam mendayagunakan dan meningkatkan hubungan orang dengan organisasi, menciptakan iklim yang kondusif untuk memotivari orang-orang bekerja sama secara harmonis, sehingga tujuan dapat dicapai.

Teori umum (grand theory) yang melandasi kerangka pemikiran ini adalah commander theory yang dikemukakan oleh Lois Goldberg (1965) yang dikutip oleh Harahap (2004:70) bahwa teori ini menitik beratkan pada para pemegang kekuasaan yang memiliki kewenangan dalam mengontrol sumber daya atau resource, dalam hal ini pemegang kekuasaan adalah pemerintah. Penegasan teori ini adalah pada pengelola atau Stewardship yang menerima amanah mengelola sumber daya untuk kepentingan publik memerlukan suatu media untuk mempertanggungjawabkan dan mengukur kinerja. Media dimaksud selama ini dikenal dengan laporan keuangan.

Teori antara (middle theory) adalah teori keagenan (agency theory) dari Jensen, Mackling (1976) teori ini menegaskan bahwa antara manajer (agent) dan pemilik (principal) terdapat hubungan kontrak. Inti dari teori ini adalah bahwa setiap orang atau kelompok cenderung mementingkan diri atau kelompoknya sendiri untuk memaksimalkan kemakmurannya melalui keputusan yang dibuat dalam menjalankan amanah mengelola sumber daya untuk kepentingan publik. Menurut Moe (1984:739) hubungan kegaenan dalam intitusi pemerintah daearah adalah hubungan kontrak antara Pemerintah Daerah-Rakyat, Pemerintah Daerah-DPRD, Pegawai/Pejabat Pemerintah Daerah-Pemerintah Daearah.

Menurut para ahli bahwa agency theory beranggapan kepentingan rakyat dapat dimaksimalkan dengan membagi (shared) wewenang, hak dan kewajiban diantara peranan pengawas/pemeriksa intern dan manajemen, sehingga para eksekutif cenderung semakin termotivasi untuk bertindak dalam kepentingan korporasi dibandingan dengan kepentingan mereka sendiri.

Dengan demikian jika principal dan agen memilih hubungan kepengurusan (stewardship), hasilnya adalah hubungan yang benar-benar penting yang dirancang untuk memaksimalkan potensi kerja kelompok, demikian pula halnya pihak prinsipal memilih untuk menciptakan suatu situasi kepengurusan yang berorientasi pada pemberdayaan dan pelimpahan wewenang yang cenderung menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Teori Aplikasi (application theory) adalah Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budgenting) yang dikemukakan oleh UU No.32/2004, UU No. 17/2003 dan Mardiasmo (2002: 84). Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budgenting) ini berpandangan bahwa dominasi pemerintah akan dapat diawasi dan dikendalikan melalui penerapan internal cost awareness, audit keuangan dan audit kinerja. Dengan kata lain pemerintah diharuskan bertindak berdasarkan coat minded dan harus efisien serta mampu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

II. KONSEP KOMPETENSI

Hersey (1995:5) mengemukakan bahwa seorang manajer harus memiliki kemampuan tehnik (tehnical skill), kemampuan sosial (social skill) dan kemampuan konseptual (conceptual skill). Kemampuan teknik adalah kemampuan atau keahlian untuk mencapai hasil-hasil yang telah ditetapkan, dan kemampuan untuk memikirkan masalah dan mencari alternatig-alternatif penyelesaian. Kemampuan konseptual adalah kemampuan seorang manajer didalam menggunakan logika dalam menganalisa masalah, melihat perbedaan situasi dan hal-hal yang pernah terjadi sebelumnya, mempraktekan model yang pernah dipelajari, dan mengidentifikasi hubungan dalam data. Penelitian Virtanen, (2000:334) pada bidang pelayanan publik di Amerika pada tahun 2000 menunjukan, bahwa bagi para manajer yang bergerak dibidang pelayanan publik, setidaknya ada lima jenis kompetensi yang harus mereka miliki yaitu : 1) kompetensi yang menyangkut bidang pekerjaannya; 2) kompetensi profesional berkaitan dengan bidang ilmunya; 3) kompetensi administratif; 4) kompetensi politik; dan 5) kompetensi etika.

Dalam penelitian ini untuk mengukur kompetensi menggunakan lima jenis kompetensi sebagaimana dikemukakan Virtanen (2000:334) yaitu :

1. Kompetensi yang menyangkut bidang pekerjaannya,

2. Kompetensi profesional berkaitan dengan bidang ilmunya,

3. Kompetensi administratif,

4. Kompetensi politik, dan

5. Kompetensi etika

Kompetensi Panitia Anggaran DPRD

Sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004, Pasal 19 bahwa salah satu fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah fungsi anggaran, Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud diwujudkan dalam menyusun dan menetapkan APBD bersama Pemerintah. Untuk menjalankan fungsi tersebut, DPRD memerlukan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang salah satunya adalah Panitia Anggaran yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada awal masa jabatan keanggotaan DPRD yang meliputi : 1). satu wakil dari setiap Komisi, dan utusan Fraksi berdasarkan perimbangan jumlah anggota, 2). Ketua dan Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Anggaran merangkap anggota. 3). Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Anggaran bukan anggota.

Panitia Anggaran Legislatif mempunyai tugas: 1). memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD kepada Kepala Daerah dalam mempersiapkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya lima bulan sebelum ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; 2). memberikan saran dan pendapat kepada Kepala Daerah dalam mempersiapkan penetapan, perubahan, dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebelum ditetapkan dalam Rapat Paripurna; 3). memberikan saran dan pendapat kepada DPRD mengenai pra rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah perubahan, dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah disampaikan oleh Kepala Daerah; 4). memberikan saran dan pendapat terhadap rancangan perhitungan anggaran yang disampaikan oleh Kepala Daerah kepada DPRD; dan 5). menyusun anggaran belanja DPRD dan memberikan saran terhadap penyusunan anggaran belanja Sekretariat DPRD.

Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah

Tim Anggaran Pemerintah Daerah adalah tim yang dibentuk dengan keputusan Kepala Daerah dan dipimpin oleh Sekretaris Daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan daerah dalam rangka penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang anggotanya terdiri dari Pejabat Perencana Daerah (PKD), Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan.(PERMENDAGRI No.13 Tahun 2006)

Lebih lanjut PERMENDAGRI No.13 Tahun 2006 dalam pasal 100 ayat 1,2 dan 3 dinyatakan bahwa : Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) yang telah disusun oleh SKPD disampaiakan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) untuk dibahas lebih lanjut oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud, dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA), perkiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan SKPD.

Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada SKPD melakukan penyempurnaan. Berdasarkan hasil peyempurnaan tersebut TAPD menyusun rancangan peraturan daaerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

Penganggaran Partisipatif

Proses penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penetapan peran (role setting) dalam usaha pencapaian sasaran anggaran. Dalam proses penyusunan anggaran ditetapkan siapa yang akan berperan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai sasaran anggaran dengan sumber daya yang disediakan bagi pemegang peran tersebut.

Dengan demikian partisipasi adalah suatu proses pengarnbilan keputusan bersama oleh dua pihak atau lebih yang mempunyai dampak masa depan bagi pembuat keputusan. Lebih lanjut, Becker et al, (1978:404) mengemukakan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran berarti keikutsertaan operating manajers dalam memutuskan bersama komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan yang akan datang selanjutnya akan ditempuh oleh operating manajers dalam pencapian sasaran anggaran. Tingkat rartisipasi operating manajers dalam penyusunan anggaran akan mendorong moral kerja yang tinggi dan inisiatif para manajer. Moral kerja yang tinggi merupakan kepuasan seseorang terhadap pekerjaan, dan ditentukan oleh seberapa besar seseorang tersebut melibatkan dirinya sebagai bagian dari perusahaan atau organisasi.

Partisipasi seluruh tingkat manajemen, mulai pada proses penyusunan anggaran sampai kepada pelaksanaan anggaran akan membawa pengaruh positif dalam pencapaian tujuan perusahaan, oleh karena itu proses penyusunan anggaran harus melibatkan seluruh tingkatan manajemen sejak persiapan, penyusunan anggaran dan perencanaan sasaran yang ingin dicapai serta rencana biaya untuk pelaksanaannya.

Kinerja Pemerintah Daerah

Dalam menilai kinerja organisasi biasanya membedakan penilaian kinerja atas kinerja organisasi dan kinerja individual manajer yang memimpin organisasi tersebut, yang keduanya dapat menggunakan kriteria keuangan dan non keuangan.

Pengukuran kinerja individual manajer dari aspek keuangan biasanya dengan membandingkan antara anggaran dengan realisasinya. Sedangkan pengukuran kinerja individual manajer dari aspek non keuangan menurut para ahli dapat dilakukan dengan mengevaluasi pelaksanaan fungsi-fungsi manajerial meliputi : perencanaan (Planing), pemeriksaan (investigating), pengkoordinasian (coordinating), penilaian (evaluating), pengawasan (superfising), pemilihan staf (staffing), negosiasi (negotiating) dan perwakilan (representative).Menurut Indiantoro(1993) dan Supomo(1998) dalam Ratnawati(2004) kinerja dikatakan efektif apabila tujuan anggaran tercapai dan bawahan mendapat kesempatan terlibat atau berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran serta memotivasi bawahan mengidentifikasi dan melakukan negosiasi dengan atasan mengenai target anggaran, menerima kesepakatan anggaran, dan melaksanakannya sehingga dapat menghindarkan dampak negatif anggaran yaitu faktor kriteria kinerja, sistem penghargaan (reward) dan konflik.

Dalam penelitian ini untuk mengukur kinerja kepala daerah berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang dinyatakan dalam pasal 18 yaitu pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah yang berhasil mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan baik dalam batas waktu yang ditetapkan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) tersebut meliputi penyelenggaraan pelayanan dasar yaitu Bidang pendidikan, kesehatan, perhubungan, lingkungan hidup, dan kependudukan.

Penelitian terdahulu tentang kompetensi dikemukakan Nunuy Nur Afiah (2005: 17) dalam hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa Kompetensi Anggota DPRD, Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah, secara parsial maupun simultan berpengaruh terhadap Penganggaran. Sedangkan penelitian terdahulu tentang penganggaran dikemukakan oleh Islahuzzaman, (2005: 274) dalam hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa penganggaran partisipatif berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial baik secara parsial maupun simultan artinya penganggaran partisipatif mampu mendorong pencapaian kinerja manajerial. Berbeda dengan pernyataan Islahuzzaman, dalam hasil penelitian Darwanis dinyatakan bahwa anggaran partisipatif tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja manajerial. Ini berarti menunjukkan bahwa anggaran partisipatif tidak mampu memotivasi untuk meningkatkan kinerja manajerial. Hal ini lebih disebabkan karena, sebagian besar manajer berpartisipasi dalam penyusunan anggaran tidak sampai pada keputusan final, Darwanis, (2005: 200)

  1. II. PENGUJIAN HIPOTESIS

Tujuan yang ingin dicapai pada pengujian hipotesis ini adalah untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh dari Variabel eksogen baik secara simultan maupun secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara. Jenis statistik yang digunakan untuk mencapai kedua tujuan tersebut adalah analisis jalur, berikut hasil pengolahan data yang diperoleh menggunakan software LISREL 8.30.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

Pengujian Hipotesis 1 : Kompetensi anggota DPRD, dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah, berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap Penganggaran Partisipatif.

Pengujian Hipotesis 2 :Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif, berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Korelasi Antar Variabel

Korelasi antar variabel merupakan dasar perhitungan dalam analisis jalur, dimana sebelum melangkah ke analisis jalur terlebih dahulu dihitung koefisien korelasi antar variabel untuk mengetahui keeratan hubungan antar variabel yang sedang diteliti.

Berikut ini disajikan koefisien korelasi antara ketiga Variabel eksogen [Kompetensi Panitia Anggaran DPRD (X1), Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah (X2) dan Penganggaran Partisipatif (Y)] dengan variabel endogen [Kinerja pemerintah daerah (Z)]

Tabel 1

Koefisien Korelasi Antar Variabel

Korelasi X1 X2 Y Z
X1 1,0000 0,1849 0,6867 0,7252
X2 1,0000 0,6482 0,5920
Y 1,0000 0,9444
Z 1,0000

Sumber: Lampiran 1

Dari tabel matriks korelasi diatas dapat dilihat bahwa dari ketiga Variabel eksogen semuanya memiliki hubungan yang positif dengan Variabel endogen kinerja pemerintah daerah pada kabupaten yang ada di Propinsi Maluku Utara. hubungan diantara ketiga Variabel eksogen juga menunjukkan hubungan yang positif.

Dilihat dari angka korelasinya hubungan antara Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dengan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah masuk dalam kategori rendah dengan nilai korelasi antara 0,20 hingga 0,399. Sementara hubungan antara Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dengan Penganggaran Partisipatif masuk dalam kategori kuat dengan nilai korelasi antara 0,60 hingga 0,799.

Pengujian Hipotesis Pertama.

Sebelum menguji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah terlebih dahulu diuji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif yang merupakan sub struktur pertama dari paradigma penelitian.

  1. A. Koefisien Jalur

Untuk menguji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif terlebih dahulu dicari koefisien jalur. Dari hasil pengolahan data ketiga variabel diperoleh koefisien jalur variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan variabel Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap penganggaran partisipatif dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 2

Koefisien Jalur Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan  Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah Terhadap Penganggaran Partisipatif.

Variabel eksogen

Koefisien Jalur

t-hitung R2
Kompetensi panitia anggaran DPRD (X1) 0,5869 2,5940 0,7528
Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah (X2) 0,5396 2,3850

Sumber: Lampiran 1

Dari nilai koefisien jalur dapat dilihat bahwa diantara kedua Variabel eksogen, yaitu variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD memberikan kontribusi langsung yang lebih besar terhadap Penganggaran partisipatif pada kabupaten yang ada di Propinsi Maluku Utara. Diagram jalur hubungan struktural kedua Variabel eksogen (Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah) terhadap Penganggaran Partisipatif pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1 :               Diagram Jalur Pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPR (X1) dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah(X2) terhadap Penganggaran Partisipatif(Y).

Keterangan :

X1 =    Kompetensi Panitia Anggaran DPRD

X2 =    Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah

Y      =    Penganggaran Partisipatif

ε1 =    faktor-faktor lain di luar X1 dan X2 yang berpengaruh terhadap Y.

p       =    Koefisien jalur

  1. B. Koefisien Determinasi

Setelah koefisien jalur diperoleh, selanjutnya dihitung besar pengaruh kedua Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap penganggaran partisipatif, yang dikenal dengan istilah koefisien determinasi. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai koefisien determinasi kedua Variabel eksogen terhadap Penganggaran Partisipatif pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara sebagai berikut.

Tabel 3

Besar Pengaruh Variabel Kompetensi panitia anggaran DPRD (X1)

dan Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah (X2) Secara Bersama-sama

dan Parsial Terhadap Penganggaran partisipatif (Y)

Variabel eksogen Besar Pengaruh
Langsung Tidak Langsung Total
X1 34,44% 5,86% 40,30%
X2 29,12% 5,86% 34,98%
Koefisien Determinasi (R2Y.X1,X2) = 75,28%
Pengaruh Faktor Lain (Epsilon) = 24,72%

Sumber: Dihitung dari gambar 1

Dari koefisien determinasi diketahui bahwa besar pengaruh kedua Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap penganggaran partisipatif pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara adalah sebesar 75,28%. Jadi dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa 75,28% Penganggaran Partisipatif pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara dapat dijelaskan oleh variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara bersama-sama, sementara sisanya sebesar 24,72% dijelaskan oleh faktor/variabel lain diluar kedua Variabel eksogen tersebut.

  1. C. Uji Pengaruh Bersama-sama

Setelah dihitung besar pengaruh kedua Variabel eksogen (Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah) secara bersama-sama terhadap penganggaran partisipatif, selanjutnya diuji apakah secara bersama-sama pengaruh kedua Variabel eksogen tersebut signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara menggunakan statistik uji F dengan hipotesis statistik sebagai berikut:

H0 : rYXi = 0i = 1,2 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.
Ha : rYXi ¹ 0i = 1,2 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.

Dari nilai koefisien determinasi pada tabel 4.29 dapat dicari nilai Fhitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Fhitung = (8 – 2 – 1) x 0.7528 = 7.6133
2 x (1 – 0.7528)

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung sebesar 7,6133, sedangkan dari tabel F untuk tingkat signifikansi 0,05 dan derajat bebas (2;5) diperoleh nilai sebesar 5,7861. Karena Fhitung lebih besar dari Ftabel, maka pada level of significant α = 5% H0 ditolak dan Ha tidak ditolak, jadi berdasarkan hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel  Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.

  1. D. Uji Pengaruh Parsial

Setelah prosedur pengujian secara bersama-sama menyimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan dari kedua Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap Penganggaran Partisipatif, selanjutnya dilakukan pengujian secara parsial untuk menguji pengaruh masing-masing dari kedua Variabel eksogen tersebut terhadap Penganggaran Partisipatif. Untuk menguji pengaruh parsial masing-masing Variabel eksogen digunakan statistik uji t yang dibandingkan dengan nilai t dari tabel pada level of significant α = 5% dan derajat bebas 5 pada pengujian dua arah yaitu sebesar 2,5706.

Pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD Terhadap Penganggaran Partisipatif

Hipotesis

H0 : rYX1 = 0 Kompetensi panitia anggaran DPRD secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap penganggaran partisipatif.
Ha : r YX1 ¹ 0 Kompetensi panitia anggaran DPRD secara parsial berpengaruh signifikan terhadap penganggaran partisipatif.

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai thitung koefisien jalur variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD terhadap Penganggaran Partisipatif adalah sebesar 2,5940. Karena thitung (2,5940) lebih besar dari ttabel (2,5760)  maka pada level of significant α = 5% H0 ditolak dan Ha tidak ditolak, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.

Tabel 4

Besar Pengaruh Variabel  Kompetensi panitia anggaran DPRD

Terhadap Penganggaran partisipatif

Pengaruh Variabel  Kompetensi panitia anggaran DPRD  Terhadap Penganggaran partisipatif Besar pengaruh
Secara Langsung =    34.44%
Tidak Langsung =      5.86%
Total Pengaruh =    40.30%

Sumber: Tabel 3

Secara langsung variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD memberikan pengaruh sebesar 34.44% terhadap penganggaran partisipatif dan secara tidak langsung karena hubungannya dengan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah daerah sebesar 5.86%. Dengan demikian total pengaruh variabel  Kompetensi Panitia Anggaran DPRD terhadap Penganggaran Partisipatif sebesar 40.30%.

Kompetensi Panitia Anggaran DPRD berpengaruh positif terhadap Penganggaran Partisipatif, artinya kabupaten yang Kompetensi Panitia Anggaran DPRD nya tinggi pada umumnya memiliki Penganggaran Partisipatif yang lebih baik.

Pengaruh Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah Terhadap Penganggaran Partisipatif.

Hipotesis

Ho : rYX2 = 0 Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah daerah secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif .
Ha : r YX2 ¹ 0 Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai thitung koefisien jalur variabel Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif adalah sebesar 2,3850. Karena thitung (2,3850) lebih kecil dari ttabel (2,5760)  maka pada level of significant α = 5%, H0 tidak ditolak dan Ha ditolak, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa kompetensi tim anggaran pemerintah daerah secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penganggaran partisipatif. Akan tetapi pada tingkat kepercayaan 90% masih dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif.

Tidak signifikannya pengaruh Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif, hal ini lebih disebabkan secara umum Tim Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara belum melibatkan seluruh menejer publik seperti Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam proses penganggaran daerah.

Tabel 5

Besar Pengaruh Variabel  Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah

Terhadap Penganggaran partisipatif

Pengaruh Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah Terhadap Penganggaran partisipatif Besar pengaruh
Secara Langsung =    29.12%
Tidak Langsung =      5.86%
Total Pengaruh =    34.98%

Sumber: Tabel 3

Kemudian secara langsung variabel Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah memberikan pengaruh sebesar 29.12% terhadap Penganggaran Partisipatif dan secara tidak langsung karena hubungannya dengan Kompetensi Panitia Anggaran DPRD sebesar 5.86%. dengan demikian total pengaruh variabel  Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif sebesar 34.98%.

Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah  berpengaruh positif terhadap penganggaran partisipatif, artinya kabupaten yang kompetensi tim anggaran pemerintah daerahnya tinggi pada umumnya memiliki Penganggaran Partisipatif yang lebih baik.

Pengujian Hipotesis Kedua

Pada sub struktur pertama telah diuji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif. Pada bagian ini akan diuji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah yang merupakan sub struktur kedua dari paradigma penelitian.

  1. A. Koefisien Jalur

Untuk menguji pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah terlebih dahulu dicari koefisien jalur. Dari hasil pengolahan data keempat variabel diperoleh koefisien jalur variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, variabel Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah sebagai berikut.

Tabel 6

Koefisien Jalur Kompetensi panitia anggaran DPRD,

Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah

dan Penganggaran partisipatif Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Variabel eksogen Koefisien Jalur t-hitung R2
Kompetensi panitia anggaran DPRD (X1) 0,1643 0,7594 0,9037
Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah (X2) 0,0390 0,1887
Penganggaran partisipatif (Y) 0,8063 2,8885

Sumber: Lampiran 1.

Berdasarkan nilai koefisien jalur dapat dilihat bahwa diantara ketiga Variabel eksogen, variabel Penganggaran Partisipatif memberikan kontribusi langsung yang paling besar terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Diagram jalur hubungan struktural ketiga Variabel eksogen (Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif) terhadap  Kinerja Pemerintah Daerah dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2 :           Diagram Jalur Pengaruh Kompetensi panitia anggaran DPRD(X1), Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah(X2) dan Penganggaran partisipatif(Y) Terhadap Kinerja pemerintah daerah(Z).

Keterangan :

X1 =    Kompetensi Panitia Anggaran DPRD

X2 =    Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah

Y      =    Penganggaran Partisipatif

ε1 =    faktor-faktor lain di luar X1, X2 dan Y yang berpengaruh terhadap Z.

p       =    Koefisien jalur

  1. B. Koefisien Determinasi

Setelah koefisien jalur diperoleh, selanjutnya dihitung besar pengaruh ketiga Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, yang dikenal dengan istilah koefisien determinasi. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai koefisien determinasi ketiga Variabel eksogen terhadap Kinerja Pemerintah Daerah sebagai berikut.

Tabel 7

Besar Pengaruh Variabel Kompetensi panitia anggaran DPRD (X1),

Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah (X2) dan Penganggaran partisipatif (Y) Secara Bersama-sama dan Parsial Terhadap Kinerja pemerntah daerah (Z)

Variabel eksogen Besar Pengaruh
Langsung Tidak Langsung Total
X1 2,70% 9,21% 11,91%
X2 0,15% 2,16% 2,31%
Y 65,01% 11,14% 76,15%
Koefisien Determinasi (R2Z.X1,X2,Y) = 90,37%
Pengaruh Faktor Lain (Epsilon) = 9,63%

Sumber: Dihitung dari gambar 2

Dari koefisien determinasi diketahui bahwa besar pengaruh ketiga Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap Kinerja Pemerintah Daerah adalah sebesar 90,37%. Jadi dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa 90,37% pelaksanaan Kinerja Pemerintah Daerah pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara dapat dijelaskan oleh variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif secara bersama-sama, sementara sisanya sebesar 9,63% dijelaskan oleh faktor/variabel lain diluar ketiga Variabel eksogen tersebut.

  1. C. Uji Pengaruh Bersama-sama

Setelah dihitung besar pengaruh ketiga Variabel eksogen (Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, selanjutnya diuji apakah secara bersama-sama pengaruh ketiga  Variabel eksogen tersebut signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah menggunakan statistik uji F dengan hipotesis statistik sebagai berikut:

Ho : rZXiY = 0i = 1,2 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
Ha : rZXiY ¹ 0i = 1,2 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Dari nilai koefisien determinasi pada tabel 4.33 dapat dicari nilai Fhitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Fhitung = (8 – 3 – 1) x 0.9037 = 12.5123
3 x (1 – 0.9037)

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung sebesar 12,5123, dari tabel F pada level of significant α = 5% dan derajat bebas (3;4) diperoleh nilai Ftabel sebesar 6,5914.

Karena Fhitung lebih besar dari Ftabel, maka pada level of significant α = 5%, H0 ditolak dan Ha tidak ditolak, jadi berdasarkan hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel  Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

  1. D. Uji Pengaruh Parsial

Setelah prosedur pengujian secara bersama-sama menyimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan dari ketiga Variabel eksogen secara bersama-sama terhadap kinerja pemerintah daerah pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara, selanjutnya dilakukan pengujian secara parsial untuk menguji kebermaknaan pengaruh masing-masing dari ketiga Variabel eksogen tersebut terhadap kinerja pemerintah daerah pada kabupaten yang ada di propinsi Maluku Utara. Untuk menguji pengaruh parsial masing-masing Variabel eksogen digunakan statistik uji t yang dibandingkan dengan nilai t dari tabel pada tingkat kekeliruan 5% dan derajat bebas 4 pada pengujian dua arah yaitu sebesar 2,7764.

Pengaruh Kompetensi Panitia Anggaran DPRD Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Hipotesis

Ho : r ZX1 = 0 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
Ha : r ZX1 ¹ 0 Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa nilai thitung koefisien jalur variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD terhadap Kinerja Pemerintah Daerah adalah sebesar 0,7594. Karena thitung (0,7594) lebih kecil dari ttabel (2,7764)  maka pada level of significant α = 5%, H0 tidak ditolak dan Ha ditolak, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Hal ini lebih disebabkan karena tingginya tingkat perbedaan dalam proses penetapan anggaran daerah antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Panitia Anggaran DPRD hal ini menyebabkan tidak jarang terjadi distorsi dalam penetapan anggaran daerah di Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara.

Tabel 8

Besar Pengaruh Variabel  Kompetensi panitia anggaran DPRD

Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Pengaruh Variabel  Kompetensi panitia anggaran DPRD  Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Besar pengaruh

Secara Langsung =      2.70%
Tidak Langsung =      9.21%
Total Pengaruh =    11.91%

Sumber: Tabel 7

Secara langsung variabel Kompetensi Panitia Anggaran DPRD memberikan pengaruh sebesar 2.70% terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dan secara tidak langsung karena hubungannya dengan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif sebesar 9.21%. Total pengaruh variabel  Kompetensi Panitia Anggaran DPRD terhadap Kinerja Pemerintah Daerah sebesar 11.91%.

Pengaruh Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Hipotesis

Ho : r ZX2 = 0 Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
Ha : r ZX2 ¹ 0 Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai thitung koefisien jalur variabel Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah adalah sebesar 0,1887. Karena thitung (0,1887) lebih kecil dari ttabel (2,7764)  maka pada level of significant α = 5%, H0 tidak ditolak dan Ha ditolak, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa kompetensi tim anggaran pemerintah daerah secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Sama halnya dengan tidak signifikanya pengaruh Panitia Anggaran DPRD terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. tidak signifikanya pengaruh Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, lebih disebabkan karena tingginya tingkat perbedaan dalam proses penetapan anggaran daerah antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Panitia Anggaran DPRD hal ini menyebabkan tidak jarang terjadi distorsi dalam penetapan anggaran daerah di Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara.

Tabel 9

Besar Pengaruh Variabel  Kompetensi Tim anggaran PEMDA

Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Pengaruh Variabel  Kompetensi tim anggaran PEMDA  Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Besar pengaruh

Secara Langsung =      0.15%
Tidak Langsung =      2.16%
Total Pengaruh =      2.31%

Sumber: Tabel 7

Kemudian secara langsung variabel kompetensi tim anggaran pemerintah daerah memberikan pengaruh sebesar 0.15% terhadap kinerja pemerintah daerah dan secara tidak langsung karena hubungannya dengan Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan penganggaran partisipatif sebesar 2.16%. Secara total pengaruh variabel  Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah sebesar 2.31%.

Pengaruh Penganggaran Partisipatif Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Hipotesis

Ho : r ZY = 0 Penganggaran Partisipatif secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
Ha : r ZY¹ 0 Penganggaran Partisipatif secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai thitung koefisien jalur variabel penganggaran partisipatif terhadap kinerja pemerintah daerah adalah sebesar 2,8885. Karena thitung (2,8885) lebih besar dari  ttabel (2,7764)  maka pada level of significant α = 5%, H0 ditolak dan Ha tidak ditolak, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa Penganggaran Partisipatif secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.

Pengangaran Partisipatif berpengaruh positif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, artinya kabupaten yang Penganggaran Partisipasipatifnya tinggi pada umumnya memiliki Kinerja Pemerintah Daerah yang lebih baik.

Tabel  10

Besar Pengaruh Variabel  Penganggaran Partisipatif

Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Pengaruh Variabel  Penganggaran Partisipatif  Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Besar pengaruh

Secara Langsung =    65.01%
Tidak Langsung =    11.14%
Total Pengaruh =    76.15%

Sumber: Tabel 7

Secara langsung variabel Penganggaran Partisipatif memberikan pengaruh sebesar 65.01% terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dan secara tidak langsung karena hubungannya dengan Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah sebesar 11.14%. Total pengaruh variabel  Penganggaran Partisipatif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah pada sebesar 76.15%.

Diagram jalur gabungan dari hubungan sub struktur pertama dan sub struktur kedua dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4.18 : Diagram Jalur Gabungan Sub Struktur Pertama dan Kedua.

Keterangan :

X1 =    Kompetensi Panitia Anggaran DPRD

X2 =    Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah

Y      =    Penganggaran Partisipatif

ε1 =    faktor-faktor lain di luar X1, danX2 yang berpengaruh terhadap Y.

ε2 =    faktor-faktor lain di luar X1, X2 dan Y yang berpengaruh terhadap Z.

p       =    Koefisien jalur

III. KESIMPULAN

Setelah melewati proses pengelolaan dan analisis data dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD dan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara simultan memiliki berpengaruh signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif. Dari kedua variabel tersebut, Kompetensi Panitia Anggaran DPRD memberikan kontribusi yang paling besar terhadap penganggaran partisipatif. Sedangkan Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah pengaruhnya sangat lemah. Dengan demikian Kompetensi Panitia Anggaran DPRD punya peran yang menentukan dalam suksesnya penganggaran partisipatif. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa Kompetensi Panitia Anggaran DPRD yang berkualitas akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas alokasi anggaran, distribusi anggaran dan peran stabilisasi dalam perekonomian daerah, yang pada akhirnya dapat mengurangi pemborosan sumber daya daerah. 2) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Penganggaran Partisipatif artinya Kabupaten yang Kompetensi Panitia Anggaran DPRD nya tinggi pada umumnya memiliki Penganggaran Partisipatif yang lebih baik. Sehingga Pemerintah Daerah yang ada di Propinsi Maluku Utara, perlu banyak menaruh perhatian untuk pengembangan Kompetensi Panitia Anggaran DPRD di bidang anggaran. Karena jika kualitas Kompetensi Panitia Anggaran DPRD baik, maka akan dapat mendukung terhadap proses anggaran daerah dalam hal alokasi dan distribusi anggaran yang efektif dan berpihak pada kebutuhan masyarakat khususnya dalam sektor pendidikan, kesehatan, perhubungan, lingkungan hidup dan catatan sipil. 3) Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penganggaran partisipatif. Tidak signifikannya pengaruh Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah terhadap Penganggaran Partisipatif, disebabkan karena dalam proses penganggaran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara belum melibatkan seluruh menejer publik seperti Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam proses penganggaran daerah. 4) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Penganggaran Partisipatif secara simultan memiliki berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Diantara ketiga variabel, Penganggaran Partisipatif memberikan kontribusi langsung yang paling besar terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Sedangakan Kompetensi Panitia Anggaran DPRD, Kompetensi Tim Anggaran Pemerintah Daerah pengaruhnya sangat lemah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Dengan demikian Penganggaran Partisipatif punya peran yang menentukan dalam suksesnya Pencapaian Tujuan Pemerintah Daerah. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa Penganggaran Partisisipatif yang baik akan meningkatakan komitmen dan rasa tanggung jawab para manajer publik untuk menyukseskan pencapaian tujuan pemerintah daerah yang telah ditetapkan sebelumnya khususnya dalam sektor pendidikan, kesehatan, perhubungan, lingkungan hidup dan catatan sipil. 5) Kompetensi Panitia Anggaran DPRD secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat perbedaan pemikiran dalam proses penetapan anggaran daerah antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Panitia Anggaran DPRD yang menyebabkan tidak jarang terjadi distorsi dalam penetapan anggaran daerah di Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara. 6) Kompetensi tim anggaran pemerintah daerah secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Sama halnya dengan tidak signifikanya pengaruh Panitia Anggaran DPRD terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, yaitu lebih disebabkan karena tingginya tingkat perbedaan dalam proses penetapan anggaran daerah antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Panitia Anggaran DPRD yang menyebabkan tidak jarang terjadi distorsi dalam penetapan anggaran daerah di Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara. 7) Penganggaran Partisipatif secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Pengangaran Partisipatif berpengaruh positif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah, artinya Kabupaten yang Penganggaran Partisipasipatifnya tinggi pada umumnya memiliki Kinerja Pemerintah Daerah yang lebih baik.

Daftar Pustaka

A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, (2005). Evaluasi Kinerja SDM, PT. Refika Aditama, Bandung.

Becker, H.S & D., Green, 1978., Budgeting and Employee Behavior, The Journal of Business, October p.392-402.

Darwanis, 2005, Analisis Kausalitas antara budaya perusahaan, Anggaran Partisipatif, Senjangan Anggaran, Kinerja Manajer dan Kinerja Perusahaan. Disertasi Doktor pada Universitas Padjadjaran Bandung.

E.Ristandi Suhardjadinata, 2006. Pengaruh Peran Pimpinan Pemerintah Daerah dan Jasa Pemeriksa Internal dalam Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan terhadap Penerapan Tata Kelola Pemerintahan dan Dampaknya Kepada Kinerja Kepala Daerah.Disertasi Doktor pada Universitas Padjadjaran Bandung.

Hersey Paul, Blanchard, 1995. Manajemen Prilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Terjemahan. Edisi Keempat. Erlangga, Jakarta.

Indra Bastian, 2001. Akuntansi Sektor Publik Di Indonesia, BPFE-Yogyakarta.

Indra Bastian, 2006. Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah di Indonesia.Salemba Empat.Jakarta

Islahuzzaman, 2005. Hubungan antara Penganggaran Partisipatif, Komitment Organisasi, Motivasi dan Pengaruhnya terhadap Pelaksanaan Akuntansi Pertanggungjawaban, serta Implikasinya terhadap Kinerja Manajer. Disertasi Doktor pada Universitas Padjadjaran Bandung.

Jensen, Michael and William Meckling, 1979. Theory of Firms, Managerial Behaviour, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. Vol 3

Kenis, I. 1979. Efects on Budgetary Goal Characteristic on Managerial Attitudes and Performance. The Accounting Review, Vol. LIV.No.4 p.707-721.

Mahoney, T. A., T.H Jerdee and S.J Carroll., 1963. Development of Managerial Performance: A Research Approach. Cincinati, Ohio:Southwestern Publishing Co.

Mardiasmo, 2002.Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Edisi Pertama.ANDI. Yogyakarta.

Mardiasmo,  2002. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Pertama. ANDI Yogyakarta.

Moh. Nazir. 2004. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia.

Mudrajad Kuncoro. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi: Bagaimana Meneliti & Menulis Tesis?. Jakarta : Erlangga.

M. Sudradjat Sw. 2002. Metode Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala. Bandung : Diktat Kuliah.

Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Edisi Ketiga. Jakarta : Salemba Empat.

Nunuy Nur Afiah, 2004. Pengaruh Kompetensi Anggota DPRD, Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah. Pelaksanaan Sistem Informsi Akuntansi, Penganggaran serta Kualitas Informasi Keuangan Terhadap Prinsip-Prinsip Tata Kelola Pemerintahan Daerah yang Baik, Disertasi Doktor pada Universitas Padjadjaran Bandung.

Ratnawati Kurnia, 2004. Pengaruh Budgeting Goal Characteristics terhadap Kinerja Manajerial dengan Budaya paternalistik dan komitmen organisasi sebagai moderating variabel.(Studi empiris pada perguruan tinggi swasta kopertis wilayah III). Simposium Nasional Akuntansi VII. Denpasar. p.647-658

Republik Indonesia, Undang-undang No. 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.

Republik Indonesia, Undang-undang No.15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Republik Indonesia, Undang-undang No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah.

Republik IndonesiaRepublik Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

Republik IndonesiaRepublik Indonesia, Peraturan pemerintah No. 79 tahun 2005 Tentang Pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan daerah.

Republik Indonesia, Intruksi Presiden No.7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri  No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah

Republik Indonesia, Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor : 43/KEP/2001 Tentang Standar Kompetensi Jabatan structural Pegawai Negeri Sipil

Sekaran, Uma, 2003. Research Methods for Business; A skill-building approach, Fourth edition. Jhon Wiley & Sons, Inc.

Sekaran, Uma, 2006a. Metodologi Penelitian untuk bisnis, edisi 4 buku 1, alih bahasa Kwan men yon. Salemba Empat. Jakarta.

Sekaran, Uma, 2006b. Metodologi Penelitian untuk bisnis, edisi 4 buku 2, alih bahasa Kwan men yon. Salemba Empat. Jakarta.

Sofyan Shafry Harahap, 2001. Teory Akuntansi, Edisi Revisi, Cet 4, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Spencer, lyle M., JR, & Signe M. Pencer 1993. Competence at work, model for superior performance. John Willey & Inc.

Sri Dewi Anggadini, 2005. Pengaruh Karakteristik Pencapaian Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial (Studi Pada Perusahaan Pedagang Besar Farmasi (PBF) Pusat di Kota Bandung). Tesis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung

Virtanen, Turo, 2000. Changing Competences of Publik Manager : Tensions in Commitment, The International Journal of Public Sector Management, Vol. 13, No. 4, p. 333-341.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: