HIDUP, HARUS PUNYA RASHA TIDAK PUNYA RASHA PUNYA

KETIDAKADILAN INFORMASI DALAM LAPORAN KEUANGAN

Dalam artikel ini kami, ingin mengkaji apa yang seharusnya menjadi isi laporan keuangan tahunan perusahaan dengan menggunkan media dialog antara seorang kiayi dengan kedua santrinya di sebuah pondok pesantren. Kami gunakan media ini karena cukup unik apabila kiyai memberi tausiahnya berkenaan dengan masalah peran akuntansi dan bisnis, hal ini karena kebiasaan pembahasan di pondok pesantren biasanya hanya berkutat pada pembahasan yang sifatnya spritualitas, sehingga kali ini kami mencoba untuk mengkombinasikan pokok bahasan antara spritualitas dengan akuntansi dan dunia bisnis.

Suatu hari duduk seorang kiayi dan beberapa santri di pendopo masjid yang atapnya berasal dari daun pohon sagu. Kiayi saleh namanya, pada saat itu beliau sedang memberikan tausiah kepada jujur dan amanah yang tak lain adalah santri yang duduk bersama kiayi saleh. Pagi itu langit begitu cerah, hingga langit hampir tidak terlihat awan sedikitpun dan udara pagi sungguh sejuk bak kemurnian anugrah illahi. Setelah mengucapkan salam kepada dua santrinya, terdengar Kiayi Saleh berkata “Tiap Bangsa betapapun biadapnya, mempunyai dongeng takhayul. Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi muslihat yang menakut-nakuti anak supaya tidak nakal. Ada pula yang timbul dari keajaiban alam yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh dengan dewa-dewa. Lama–kelamaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasi itu manusia dapat menyatukan rohnya dengan alam sekitarnya. Orang yang membuat fantasi itu tentu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangan rohnya terletak pada fantasinya itu. Tetapi kemudian ada orang yang ingin mengetahui lebih jauh akan fantasi tersebut !.”

Dengan nada lirih kiayi saleh bertanya kepada jujur “Jujur tahukah kamu siapa orang-orang tersebut ?” Dengan merenung sejenak kemudian jujur menjawab “orang-orang itu adalah orang yang tidak percaya, dan yang bersifat kritis. Kiyai !”. mendengar jawaban jujur kemudian Kiayi Saleh mengangguk dan berkata “Sungguh jawabanmu keluar dari hati, jujur”. Kiayi Saleh berkata lagi, Benar jujur ! Orang-orang itulah yang kelak akan membawa pencerahan bagi umat di dunia ini. Sejenak mereka bertiga terdiam, kemudian kiayi saleh melihat kediding yang terbuat dari anyaman bambu, lalu Kiayi Saleh sambil memperbaiki kaca matanya, seraya memperhatikan jam yang menunjukan pukul 08.00 WIT saat itu. Lalu tiba-tiba amanah bertanya kepada kiayi saleh “Maaf Kiayi, semalam, amanah membaca artikel yang judulnya  Silences In Annual Reports” intinya dalam artikel ini membicarakan tentang ketidakadilan dalam pengungkapan informasi yang berkaitan dengan aktivitas bisnis suatu perusahaan dalam laporan keuangan tahunannya. Sehingga yang terjadi adalah pembungkaman hak-hak yang seharusnya diperoleh mahkluk hidup yang berada di lingkungan sekitarnya. Selain itu artikel ini pak kiayi, juga menjelaskan bahwa perang itu baik, teroris itu baik, wabah penyakit itu baik, pengangguran itu baik dan konsumtif (makan yang berlebihan) itu baik. Selang beberapa saat amanahpun melanjutkan pertanyaanya “Pak kiayi setelah membaca artikel ini, amanah jadi bingung padahal yang saya sebutkan diatas itu kan merugikan bagi kehidupan dan bahkan dilarang oleh agama, tapi kenapa hal tersebut malah menjadi baik. Pak kiayi beri, amanah tausiah tentang hal tersebut !”

Sembari sedikit tersentak pak kiayi saleh menjawab pertanyaan amanah “ wahai amanah itulaha yang saya maksud sebagai dongeng tahayul yang kemudian menjadi fantasi manusia, karena dengan fantasi itu manusia dapat menyatukan rohnya dengan alam sekitarnya. Kemudian orang yang membuat fantasi tersebut tentu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangan rohnya terletak pada fantasinya itu. Jadi perang, teroris, wabah penyakit, pengangguran dan konsumtif (makan yang berlebihan) itu adalah fantasi dari dongeng tahayul yang mereka ciptakan untuk kepentingan pribadi mereka. Sehingga apapun caranya asalkan menguntungkan dan dapat memaksimalkan kekayaan mereka tidak peduli halal atau haram, membinasakan orang lain atau bahkan menghancurkan alam ini akan mereka lakukan demi fantasi mereka”.

Begitu asiknya tausiah yang disampaikan kiayi saleh, hingga tak terasa waktu menunjukan 12.00 WIT artinya waktu sholat dhohor telah tiba, lalu berkata kiayi saleh “ nah jujur dan amanah, sekarang kita sholat berjamaah dulu, lalu setelah sholat nanti kita makan siang bersama, kemudian baru kita lanjutkan tausiahnya”. Tak lama mereka berdua menjawab “baik pak kiayi”. Dan setelah mereka sholat dhohor berjamaah dan makan siang bersama, kemudian tausiah pun dilanjutkan kembali. Kali ini tausiah dilanjutkan di tempat yang berbeda yaitu di bawah pohon durian yang kira-kira pohonya sebesar dua kali pelukan orang dewasa.

Di bawah pohon tersebut suasana sangat sejuk, angin bertiup sepoi-sepoi, sembari sambil memperbaiki duduknya, perlahan kiayi saleh berkata “ Jujur dan amanah, perlu kalian ketahui bahwa dunia saat ini memasuki fase Jahiliah Modern, artinya manusia, hewan, tumbuhan bahkan alam ini akan bernilai apabila memberikan manfaat ekonomi bagi mereka. Sehingga dalam otak orang-orang ini, yang dipikirkan hanyalah apa yang baik bagi bisnis, sedangkan yang tidak baik bagi bisnis layak dimusnahkan dari dunia ini. Oleh karna itu, kiyai saleh terdiam sejenak sembari mengingat topik yang dibahas sebelum sholat dhohor, kemudian berkata “wajar jika laporan keuangan tahunan perusahaan hanya menyajikan informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang menurut mereka baik bagi bisnis, walaupun laporan keuangan tersebut sesat”.

Setelah mendengar tausiah kiayi saleh tersebut, tak sepatah katapu keluar dari mulut jujur maupun amanah. Setelah jedah beberapa saat, sambil menatap kedua santrinya itu, kiayi saleh berkata lagi “wahai jujur dan amanah jadilah orang yang paling dicintai Allah SWT, sehingga kalian termasuk orang-orang yang mendapat rahmat” sebagaimana diriwatkan Ibnu Umar bahwa :

 

Seorang lelaki mendatangi Nabi SAW dan berkata :

”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah SWT?”

Rasulullah SAW menjawab :

”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan.

Akhirnya waktu menunjukan pukul 14.30 WIT, artinya saatnya istirahat siang telah tiba, setelah tausiah selesai Kiayi Saleh mengisyaratkan kepada jujur dan amanah untuk kembali kebiliknya masing-masing untuk istirahat siang, namun sebelum kiayi saleh meninggalkan amanah dan jujur sempat berkata “besok tausiahnya akan membahas mengenai mall milik siapa dan bagaimana peran akuntansi dalam menjamurnya mall di indonesia”.  “O ya” terdengar kembali suara kiayi saleh “ jangan lupa nanti kita sholat azhar berjamaah”, tak lama berselang Jujur dan Amanahpun menjawab “Insya Allah pak kiayi”. Begitulah gaya hidup di pondok pesantren tak terlepas dari ibadah dan saling nasehat-menasehati.

Keesokan harinya, sebelum kiayi saleh datang, jujur dan amanah telah terlebih dulu datang di pendopo masjid. Tak lama kemudian terlihat sosok paru baya yang tak lain adalah kiyai saleh, setibanya di pendopo kiayi saleh berucap “Assalamu’alaikum Warohmatullah Hiwabarokatu” dan dijawab oleh jujur dan amanah “Waallaikumsalam Warohmatullah Hiwabarokatu”. Setelah berucap salam, lalu kiayi saleh duduk didepan kedua santrinya untuk memberikan tausiahnya yang mengambil topik “Mall milik siapa dan bagaimana peran akuntansi dalam menjamurnya mall di indonesia”.

Seperti hari-hari sebelumnya pagi itu sinar matahari begitu cerah, suara burung-burung saling bersahutan di sekitar masjid, tak lama kemudian terdengan kiayi saleh memulai tausiahnya, dengan nada cerita kiayi saleh berkata “ Hari itu cuaca terik tetapi tetapi langit diselimuti mendung, di depan pintu suatu rumah yang berlantai dua, seorang ibu sedang menghampiri putrinya, lalu berkata ibu itu kepadanya “Yuk, kita ke shopping mall. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, ma mau belanja bulanan, sambil makan siang, setelah itu ke kidzania, anak kita mau main di mall lo.”

Menyambung ceritanya, Lalu kiayi saleh berkata lagi “ Begitulah kehidupan masyarakat yang saat ini berdomisili di kota-kota besar maupun menengah di Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka keberadaan Modern shopping mall atau Mall akan berpengaruh terhadap gaya hidup mereka. Sehingga sebagai negara tropis yang berpenduduk ± 220 juta jiwa, sekaligus dalam kancah intenational Indonesia yang merupakan negara berkembang, menjadi wilayah yang potensial untuk menghasilkan uang yang melimpah dari bisnis wisata kota  (Modern shopping mall atau Mall )”. “Oya jujur dan amanah tau tidak apa itu mall ?” nada kiayi saleh bertanya kepada kedua santinya, lalu dijawab oleh jujur dan amanah “belum tau pak kiayi”.

Setelah terdengar suara jujur dan amanah menjawab pertanyaanya, kemudian kiayi saleh berkata “Modern shopping mall banyak orang menyebut dengan istilah ’mall’ merupakan pusat perbelanjaan yang memiliki bangunan tertutup multilantai dan ber AC yang diisi oleh berbagai jenis unit retail seperti toko serba-ada (department store), pusat jajanan/makanan (food court) serta pusat bermainnya anak-anak dalam satu struktur yang kompak, sehingga para pengunjung mudah mengakses dari satu unit ke unit retail yang lain. Selain itu, mall menjanjikan berbagai layanan yang memanjakan calon pembelinya, tempat yang luas, produk sangat beraneka ragam, fixed price  atau harga jual tetap dan  pelayanan mandiri, ditambah dengan beberapa layanan lain seperti undian, discount, voucher dan lain-lainya serta jaminan kenyamanan dalam berbelanja. Produk yang dipajang secara terbuka sangat membantu bagi calon pembeli untuk melihat, memilih dan sekaligus mencoba produk”.

Sembari melanjutkan ceritanya kiyai saleh menjelaskan tentang konsep bisnis mall dan berkata “Konsep penyatuan tempat berjualan di satu kompleks sendiri sesungguhnya telah dipraktekkan jauh sebelumnya di Teheran, Iran (sejak abad ke-10) dan Istanbul, Turki (abad ke-15) yang disebut dengan “grand bazaar”. Kala itu, para pedagang membangun kios-kiosnya di plaza terbuka atau koridor jalan yang saling berdekatan. Lalu pada abad ke-18 berkembang konsep “shopping center” dan “shopping arcade” dengan bentuk kompleks retail yang terbuka (open-air retailcomplex) yang mulai menawarkan kenyamanan bagi para pengunjung. Konsep ini banyak digunakan di Australia dan Eropa (misal Galleria Vittorio Emmanuelle di Milan yang dibangun pada 1860-an)”.

“Mall sebagai kompleks retail dengan struktur tertutup pertama kali diperkenalkan di Amerika Utara pada tahun 1915-an di Minnesota. Konsep indoor mall semakin populer pasca perang dunia ke-2 (1950-an), misalnya Northgate Mall di Seattle dan Southdale Center di Minnesota. Dalam perkembangan selanjutnya konsep mall dengan struktur tertutup ini lebih diterima di negara-negara tropis seperti Singapura, Malaysia dan Indonesia”.

Lanjut Kiayi Saleh “Sejak awal era 1970-an, secara perlahan Indonesia mentransformasi sistem perekonomiannya menjadi neoliberalis sehingga sangat ramah terhadap investasi asing. Upaya ini tampak semakin jelas setelah dikeluarkannya berbagai kebijakan deregulasi ekonomi antara 1980 hingga pertengahan 1990-an dimana, pada masa keemasan tersebut, investor diberikan keleluasaan besar untuk menguasai lahan-lahan perkotaan dan mengalihkannya menjadi lahan-lahan industri dan real estate (khususnya mall, apartemen, dan perkantoran). Hingga kini, jumlah mall telah bertambah pesat di Indonesia, seperti : Aceh 5, Sumatera Utara 43, Sumatera Barat 8, Riau 16, Kep Riau 16, Bengkulu 10, Sumatera Selatan 26, Lampung 24, Kep. Bangka Belitung  5, Jambi 10, Banten 23, Jakarta 77, Jawa Barat 121, Jawa Tengah 69, Yogyakarta 31, JawaTimur 121, Kalimantan Barat 17, Kalimantan Tengah 5, Kalimantan Timur 32, Kalimantan Selatan 11, Sulawesi Tengah 3, Sulawesi Utara 8, Sulawesi Selatan 11, Sulawesi Tenggara 5, Bali 13, Nusa Tenggara Barat 2, Nusa Tenggara Timur 1, Maluku Utara 2, Maluku 3, Papua 9, Papua Barat 2”.

Sambil memperbaiki duduknya kiayi saleh melanjutkan ceritanya “Bagi masyarakat perkotaan di Indonesia, mall di satu sisi mencerminkan adanya kebutuhan nyata masyarakat perkotaan atas ruang-ruang publik (public space) untuk kegiatan rekreatif maupun kegiatan sosial, sebagai bagian dari gaya hidup modern. Akibat semakin terbatasnya ruang-ruang publik, maka mall menjadi pilihan yang logis untuk beberapa alasan seperti kenyamanan (menghindari sengatan udara tropis dan guyuran hujan), kepraktisan dan efisiensi (mengurangi pergerakan didalam kota), keamanan (memenuhi kebutuhan psikologis untuk rasa aman) serta kepastian (menghindari praktek penipuan produk sebagaimana lazim terjadi pada pasar tradisional). Tidak heran, jika dalam era otonomi daerah saat ini para Gubernur, Bupati dan Walikota berlomba-lomba membangun mall, menjadikannya sebagai landmark alias simbol dari kemajuan wilayah dan keberhasilan dalam mandat elektoralnya”.

“Coba Jujur dan Amanah bayangkan siapa yang sebenarnya pemilik mall” ucap kiayi saleh kepada kedua santrinya, tak lama kemudian kiyai saleh melanjutkan tausiahnya “Keberadaan mall sebagai kompleks retail yang mendorong konsumsi masyarakat, semenjak krisis ekonomi 1998, mall dianggap banyak membantu pertumbuhan sektor ekonomi riil. Hal ini karena mall memiliki pertumbuhan omzet yang luarbiasa besar yakni 31,4% dengan kontribusi terhadap penerimaan negara dari sektor pariwisata sebesar USD 4,52 juta. Namun demikian, mall kerap menimbulkan permasalaha kesenjangan sosial yang serius seperti 1) Mall merupakan ruang publik artifisial yang bersifat ekslusif. Artinya mall hanya menjadi media pemuas kalangan menengah keatas sedangkan orang miskin hanya bisa menikmati mall dari luar (outdoor) saja. 2) Keberadaan mall membunuh pasar tradisional yang berjumlah 13.450 pasar dengan jumlah pedagang berkisar 12.625.000 orang. Jika pertumbuhan Pasar Tradisional -8,1% (SWA, Edisi Desember 2004) dengan jumlah penurunan omset 75%, maka keberadaan mall menyumbang jumlah pengangguran atau rakyat miskin sebesar 9.468.750 orang. 3) Mall identik dengan pemborosan energi akibat dari pendingin udara dan penerangan gedung”.

“Selain itu, permasalahan yang ditimbulkan mall semakin lengkap dengan adanya perbedaan logika membangun mall di Indoneisa. Hal ini kareana, logika membangun mall di Indonesia tidak sama dengan logika membangun mall di Singapura, Malaysia dan Hongkong – sebagai pembanding. Secara lebih spesifik, kita bisa membandingkan kasus Jakarta, Bandung dan Surabaya untuk Indonesia, serta kasus Singapura, Hongkong (china), dan Kuala Lumpur (malaysia). Mall-mall di Singapura, Kuala Lumpur dan Hongkong dibangun pada satu kawasan yang kompak, yang biasanya menjadi daerah tujuan wisata turis mancanegara, misalnya di sekitar Orchard Road (Singapura), di sekitar Bukit Bintang, Sungei Wang dan Ampang (Kuala Lumpur), dan di sekitar Kowloon dan Causeway Bay (Hongkong). Sedangkan di Indonesia Secara geografis, mall dibangun di tempat-tempat yang terpisah cukup jauh satu sama lain, tidak berada dalam satu kawasan yang kompak. Namun demikian, dengan pembangunan mall tidak dalam satu kawasan akan mempermudah akses masyarakat untuk menjangkau keberadaan mall. Akan tetapi pembangunan mall di tempat yang terpisah cukup jauh satu sama lain justru menyumbang semakin meluasnya area resapan air yang beralih fungsi menjadi tempat parkir mall. Akibatnya adalah 1) Kemacetan dimana-mana, akibat dari keberadaan pusat-pusat perbelanjaan modern yang berada dimana-mana. 2) Udara menjadi pekat akibat polusi kendaraan, sehingga kualitas udara berada diambang batas normal. 3) Banjir menjadi pasti, karena resapan-resapan air telah menjadi pusat-pusat perbelanjaan modern.

“Akhirnya keberadaan mall yang begitu banyak di setiap kota di Indonesia, muncul pertanyaan “ mall untuk siapa”, “siapa yang menikmati keberadaan mall”, “siapa yang menanggung bencana akibat keberadaan mall”. Jawaban yang lugas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu “ kami sudah terbiasa”. “Apa maksunya?” tanya kiayi saleh kepada Jujur dan amanah, sambil mengangkat tanggannya kiyai saleh kerkata                “ maksudnya adalah bahwa banjir, polusi udara, sampah dari limbah mall dan terkena wabah penyakit akibat banjir, polusi udara dan sampah limbah mall, semua itu telah menjadi keluarga dalam menjalani kehidupan” audubillahimindhaliq, semoga Allah SWT mengampuni orang-orang yang telah lalim di negara ini”.

Mendengar cerita kiyai saleh, jantung kedua santrinya berdetak keras dan terlihat raut wajah yang kemerah-merahan menunjukan ekpresi kegundahan, lalu mereka merenung dan hatinya bertanya “ mengapa orang-orang itu tidak memiliki rasa kemanusiaan?, bukankan mereka juga manusia ?”. tak lama kemudian mereka menanggapi cerita kiyai saleh dan berkata “ cerita yang luar biasa kiyai, kami jadi tau apa yang sebenarnya terjadi dibalik bagunan-bangunan mall yang megah dan mewah di negara ini”  kemudian keduanya bertanya kepada kiyai saleh “ lalu apa peran akuntansi dalam maraknya pembangunan mall di indonesia kiayi ? ” sedikit memperbaiki duduknya kiyai saleh menjawab pertanyaan kedua santrinya itu “ Income, Income, Income”. Tanya jujur dan amanah, “kenapa dengan Income kiayi” jawab kiyai “karena akuntansi menyajikan Income yang tinggi walaupun akuntansi tidak secara jujur menyajikan informasi mengenai dampak negatif dari aktivitas bisnis mereka, karena income yang tinggi menunjukan kesejahteraan pemilik perusahaan tinggi, selain itu menunjukan tingkat penjualan tinggi, sehingga mall dianggap sapi perah potensial untuk mendatangkan uang sebanyak-banyaknya bagi para pemegang saham/pemilik modal, sehingga para pemegang saham membabi buta untuk membangun mall di indonesia,”. “kalau begitu pak kiayi, akuntansi berkontribusi sebagai rudal pemunah massal akibat dari menjamurnya pembangunan mall di indonesia” sanggah jujur dan amanah kepada kiayi saleh. Tak lama kemudian kiayi saleh menjawab “itulah akuntansi”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: